Dia berjalan sendiri gontai entah tubuhnya yang lunglai atau hatinya yang terkulai. Lelaki itu berhenti pada sebuah tepi yang ia sendiri sulit menghadapi. Lama ia terdiam di tepi melihat bentangan peristiwa yang tak putus dihadapannya. Lelaki itu kesepian padahal ia ada di keramaian.
Lelaki kesepian itu mengambil satu kepingan. Kepingan itu bercerita tentang masa lalunya yang pahit. Dia lantas membuangnya. “Kepahitan akan terus menghantui, aku tak butuh digurui,” dia menggerutu. Lalu datang lagi satu kepingan lain. Sebuah wajah yang tak pernah ia bisa lupakan.
Wajah ibunya yang telah lama ia tinggalkan. Lelaki kesepian itu seperti ditampar. Ibunya yang membesarkannya dengan segala kesulitan tak lagi dia ingat di mana berada. Lelaki itu pun tak ingat kini dimana dia berada. Yang ia tahu hanya malam selalu membuatnya ketakutan. Ketakutan akan kehilangan-kehilangan.
Lelaki kesepian itu masih duduk di tepi. Kepingan lain yang ia nantikan tak kunjung tiba. Wajah perempuan yang dia nantikan selama ini. “Aku menunggumu kenapa tak juga datang wajahmu?” Lelaki itu berdiri. Matanya menerawang langit. Dia menunjuk satu bintang seolah ingin menggapainya. Mungkin ada wajah perempuan itu di sana.
Penantian dia sia-sia. Tak ada di langit, tak ada bahkan di bumi. Perempuan yang dinantinya entah menghilang ke mana. Padahal mereka telah berjanji,malam itu mereka akan bertemu. Meski hanya dalam kepingan-kepingan cerita.
“Aku ingin mengajarimu mengeja malam, lalu kita merangkainya menjadi satu cerita,” lelaki itu bergumam. Dia kembali duduk dengan wajah merunduk. Lalu lalang orang di depannya tak mengusiknya. Dia ada dalam rangkaian kenangan-kenangan.
“Beritahu aku jika kau masih menantikanku,” terdengar suara perempuan itu berbisik. Dia menoleh, hanya angin. Dia mengejarnya. Orang-orang di sekitarnya kebingungan, lelaki itu acuh. Dia terus mengejar angin terus ke utara. Hingga akhirnya dia kembali berhenti di sebuah tepi membiarkan angin yang terus menjauh.
Lelaki itu menghela nafas seperti mengeluarkan beban yang menghimpitnya. Kini ia menghempaskan diri ke tanah. Dia membiarkan tubuhnya rebah. Wajahnya kosong menatap langit. Pikirannya melarikan diri dari raganya yang hanya diam. Angin dingin musim kemarau menghantam-hantam kulitnya. Lelaki itu masih di sana. Masih kesepian, menanti perempuan terkasihnya.

0 Tanggapan ke “Lelaki Kesepian”