Arsip untuk Kategori 'Perjalanan'

Berkunjung ke Negeri Istana

Berkunjung ke Negeri Istana
Matahari sudah bersembunyi ketika kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru Riau akhir pekan lalu. Bumi Lancang Kuning yang baru saya jejak pertama kali ini punya pesona tersendiri yang membuat saya langsung tertarik ketika undangan tiba di meja saya. Maklum, selain memiliki kekayaan alam yang berlimpah, daerah ini terkenal dengan khasanah budaya

Istana SiakĀ 

Melayunya.


Mesjid Syahbuddin

Riau merupakan salah satu pewaris kejayaan Kesultanan Melayu di masa silam. Jejak-jejak itulah yang coba kami telusuri dalam waktu yang sangat singkat. Subuh saya sudah terbangun. Seperti biasa, berada di tempat baru suasana pagi selalu saya buru. Ahad pagi itu, warga kota Pekanbaru sudah sibuk berolahraga.

Lanjutkan membaca ‘Berkunjung ke Negeri Istana’

Dieng, Sebuah Perjalanan di negeri Dewa

Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan.

Kebetulan ada saudara istri yang mengadakan pesta pernikahan di Purworejo, kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk menyiapkan perjalanan ke Dieng. Setelah perjalanan 12 jam dari Jakarta akhirnya sampai juga di Purworejo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota ini kabarnya terkenal dengan sebutan kota pensiunan. Mungkin karena saking sepinya kota ini. Lanjutkan membaca ‘Dieng, Sebuah Perjalanan di negeri Dewa’

Meneguk Gedeh Mencicip Gasol

Jalan yang rusak membuat tubuh terhentak-hentak. Biar menumpang di mobil pribadi, tetap saja jalanan yang rusak menghajar habis kesabaran saya. Setelah hampir dua jam di perjalanan dari Jakarta, jalan menuju Perkebunan Teh Gedeh di Cianjur terasa amat berat. Penunjuk arah di muka jalan yang tertulis “Perkebunan Teh Gedeh 3 KM” terasa berbohong.

Tapi perjalanan yang berat terbayar ketika pemandangan kebun teh erhampar luas bak permadani hijau di depan mata. Bersama rombongan komunitas jalan sutra dan pendengar radio Delta FM, Sabtu pekan lalu kami mengunjungi pabrik teh Gedeh dan pertanian organik Gasol di Cianjur, Jawa Barat. Pulangnya kami mampir di kota Sukabumi yang dingin.

Ruang pertemuan yang cukup besar sudah menanti. Di sini segala kelelahan kami dibayar dengan secangkir teh walini ditambah perasan jeruk lemon yang membuat semua penat terlupa. Kudapan jagung dan pisang rebus cukup untuk mengganjal perut yang hanya diisi bubur ayam tadi pagi. Bajigur yang menonjok tenggorokan juga sudah saya tenggak. Ah, segar rasanya.

Pabrik teh Gedeh Tanawattee milik PT Perkebunan Nusantara VIII berdiri sejak 1927. Tulisan angka tahun itu masih terlihat jelas di atas pabrik di muka gerbang. Pabrik yang memiliki moto, “Kualitas adalah Tradisi Kami” itu memproduksi teh hitam kualitas wahid yang diekspor ke berbagai negara seperti Inggris, Rusia dan Timur Tengah.

Saatnya memasuki pabrik yang pagi itu masih terlihat sepi. Menurut Daniar, staf perusahaan yang menemani kami, pekerja yang ada di pabrik ini jumlahnya sekitar 75 orang saja. Ada dua cara pengolahan pabrik teh yaitu sistem orthodox dan sistem Crush Tear and Curl (CTC). Sistem orthodox menggunakan alat semacam silinder besar untuk mencacah daun teh dan menjadikannya kecil-kecil. Sementara itu, sistem CTC menggunakan pisau untuk mencacah daun teh.

Pabrik ini menggunakan sistem orthodox dengan beberapa mesin yang besar-besar. Pertama menggunakan sistem Open Top Roller yaitu mesin penggulung daun yang berputar-putar kemudian teh menjadi serpihan kecil-kecil. Kemudian teh masuk ke mesin kedua yaitu Press Cup Roller untuk mencacah kembali daun-daun teh yang belum hancur benar dan menjadikannya daun yang lebih kecil. Kemudian teh masuk lagi ke mesin Rotorvane yang kembali mencincang teh tadi menjadi lebih hancur. Setiap tahap menghasilkan teh dengan kualitas masing-masing.

Teh yang telah berubah warna menjadi coklat dan hitam itu kemudian dioksidasi enzimatis dalam baki-baki yang tersusun rapi dalam sebuah rak. Menurut Daniar, di sinilah bedanya pembuatan teh hijau dan teh hitam. Teh hitam melalui proses oksidasi sementara teh hijau tidak. Produksi teh di tempat ini menghasilkan 13 jenis teh.

Teh kualitas utama bernama BOP (Broken Oranye Pecco) yang terlihat berwarna hitam. Teh ini rasanya tak seperti teh-teh yang biasa saya minum. Rasanya seperti lebih kesat dan ada yang tersisa di tenggorokan saat meneguknya. “Inilah teh yang kami ekspor,” kata Daniar. Beberapa jenis teh lain juga diekspor, namun untuk keperluan lokal ternyata hanya mendapat teh kelas rendahan.

Sebelum diekspor ada seorang petugas pencicip teh yang siang itu kami lihat sedang asyik mencicipi beberapa air teh. Teh-teh ini kemudian dipak dalam kantung-kantung yang mirip kantung semen. Pikiran saya melayang-layang ke beberapa tahun silam saat saya pernah mengunjungi sebuah pabrik teh di Sri Lanka. Di negara yang terkenal dengan sebutan Ceylon itu teh-teh dikemas dalam bentuk-bentuk yang apik.

Saya bisa membeli teh-teh dengan kualitas nomor wahid dalam kemasan yang unik seperti bentuk gajah dan kotak kaleng dengan gambar-gambar jaman baheula yang unik. Saat itu saya sempat datang ke sebuah kios teh yang letaknya di tengah perkebunan teh. Di kios inilah beragam jenis teh itu bisa dibeli. Sayang, di perkebunan teh gedeh ini saya tak bisa mendapat teh dalam kemasan yang unik. Teh yang dijualpun hanya teh celup yang kemasannya sangat sederhana.

Setelah lelah berkeliling pabrik kami berangkat menuju perhentian berikutnya di Gasol Pertanian Organik di Cugenang, Cianjur. Tak berapa lama perjalanan kami berhenti pada sebuah rumah kayu yang berdiri kokoh. Kami disambut ramah si empunya rumah sekaligus pemilik pertanian organik ini, Ika Suryanawati.

Sebelum melihat-lihat kawasan pertanian organik seluas kurang lebih 2 hektar itu, perut kami yang sudah berontak sejak tadi segera disuguhi berbagai makanan. Uniknya, kami makan di atas sebuah daun pisang yang dijadikan alas untuk nasi dan lauk pauk yang kami santap. Buat sebagian peserta ini adalah pengalaman mereka pertama kali makan di atas daun pisang sambil dielus-elus angin semilir. Di kejauhan suara kecapi berpadu apik dengan tembang Sunda yang membuat suasana hati bertambah sumringah.

Menu siang itu adalah ikan pedak dengan bumbu cabe merah, teri bodas, jengkol, tahu kuning, tempe dan sayur asem. Nasi yang kami makan adalah nasi liwet pandan wangi, dan nasi merah beureum sengit yang jadi favorit. Menurut Ika, beras pandan wangi hanya bisa menyebarkan aroma semerbak jika ditanam di kawasan Gunung Gede. “Kalau menggunakan air di luar kawasan ini, wanginya tak terasa,” katanya.

Menyantap menu tadi memberikan sensasi rasa yang aduhai. Ikan pedak yang dibuat sedikit asin dengan taburan cabai yang menggigit, plus teri bodas yang terasa krenyes-krenyes membuat lidah terus bergoyang-goyang. Setelah nasi sedikit turun barulah kami melihat-lihat persawahan yang sama sekali tak menggunakan pestisida. “Semua tanaman padi di sini menggunakan pupuk alami,” kata Ika.

Perjalanan kami lanjutkan untuk singgah di kota Sukabumi. Di sini kami sudah diberi petunjuk tempat-tempat makan yang enak. Sayang, hujan yang mendera keras membuat pergerakan menelusuri kota ini teramat sulit. Kami akhirnya hanya mencicipi Sate Kambing Mang Mamat yang ada di alun-alun kota.

Warungnya tak seberapa, tapi seperti tak kuasa menampung para penikmatnya. Daging kambing di sini tak bau dan saat gigitan pertama langsung rasanya hati kesengsem. Empuknya daging ini tak membuat gigi harus bekerja keras mengunyahnya. <I>Raos<I> betul rasanya. Sebelumnya saya membeli oleh-oleh penganan khas Sukabumi yaitu moci.

Petang menjelang, tanda kami harus pulang. Kota Sukabumi yang macet harus segera kami tinggalkan. Musim libur yang sudah dekat, tak ada salahnya untuk mengulang kembali perjalanan ini.

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo )


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30