Arsip untuk Kategori 'Prosa'

ketika

Kenapa kau datang saat rindu belum kubasuh
ketika musim belum lagi berganti
dan laut masih saja bergejolak

air matamu tetes ketika rangkaian cerita itu kuputar ulang
tetes itu jatuh di belukarnya rindu
“Apakah kau ingin mengulang cerita ketika kau hujamkan sembilu diantara paru dan jantungku?”

Matamu bulan yang redup
menatap aku dan cakrawala yang tak berujung
sesekali engkau mendesah dibalik resah
“Aku mati tanpamu”

berikan aku segala kisahmu
akan aku ramu menjadi dusta yang utuh

Telik sandi

Mbak yu Ipe yang baru bekerja di kedutaan Mandraka tengah malam menelepon saya. “Aduh kepriye iki, mau ono telik sandi sing nakoki awakku?” Mbak yu Ipe sesenggukan.

Maklum, mana pernah dalam sejarah hidupnya mbak yu ini berurusan ama intel, kecuali intel yang satu itu: indomie telur. “Tenang aja mbak yu, sekarang agen itu dimana?” aku bertanya-tanya.

“Nah itu dia, agennya saiki wis ra ono, jare mau mung mampir neng kantor RW,” katanya masih dalam bahasa yang terbata-bata. Seperti hujan cerita mbak yu Ipe mengalir deras lewat telepon.

Pagi itu, seorang telik sandi negeri Asmaraloka  berkeliling di seputar hutan larangan, tempat mbak yu Ipe sekeluarga tinggal. Dia membawa-bawa sebuah surat tugas berkop TSA alias Telik Sandi Asmaraloka. Kabarnya telik itu ingin mendata semua warga  yang bekerja di perwakilan asing di negeri itu.

“Ini demi keselamatan negeri ini dari ancaman para penghianat,” ujar pak Lejar seorang tetua warga yang menemui sang telik, mengutip kata-kata telik sandi itu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Mbak yu tampak bingung.

“Dia minta semua data tentang diri dan keluargaku.”

Lo agen kok seperti petugas pencatat sensus penduduk, pikirku.

“Mungkin dia bukan telik sandi profesional. Biasanya kan tak perlu menunjukkan surat tugas atau identitas apapun pada orang kalau dia seorang telik.” Panjang lebar aku menjelaskan.

“Mana aku ngerti, aku takut nanti bisa seperti si Mas Urip Sukirno tetangga desa sebelah yang ditemukan tewas saat menyeberang sungai tempo hari itu lo…..”

“Yo wis tenang to mbak yu….ngko tak cari tau apa betul sekarang kerajaan sedang resah dengan orang-orang seperti kamu itu,” kataku menenangkan.

“La aku ini rak mung cuma wong cilik sing nggolek dhuwit seko perwakilan kerajaan asing di sini ta….”

“Coba diingat, apa mbak yu pernah tau kalau mbak yu ini sering diawasi para telik itu? Apa mbak yu pernah berbuat sesuatu yang menyakitkan sehingga petinggi kerajaan kita merasa tersinggung?”

“La ndak pernah,” katanya singkat.

Haripun bergulir. Suasana kerajaan aman tentram. Di beberapa pelosok negeri terjadi keributan kecil yang tak membuat sibuk kerajaan. Berita tentang seorang punggawa kerajaan yang memiliki kekayaan terbesar di negeri ini menjadi semacam intermezzo saja.

Sang raja lebih asyik bermain-main dengan gamelan sambil menciptakan sendra tari baru yang langsung dipatenkannya. Mungkin takut idenya dicuri negeri lain.

Mbak yu pun tenggelam dengan pekerjaannya. Hanya ia kini lebih berhati-hati. “Aku boleh to pulang larut?” Begitu mbak yu selalu mengungkapkan kekhawatirannya semenjak peristiwa telik sandi itu menghampirinya.

Kembalinya Cinta

Bulan baru saja lindap. Tapi wajahnya memancarkan purnama. Tubuhnya yang berbalut busana bersiluet melambai-lambai. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aroma parfum oriental yang tersapu angin membangkitkan kenangan-kenangan.

“Apakah kita akan melumat malam ini bersama?”

Perempuan dengan wajah penuh gejolak itu mengajak aku mengenang kembali mimpi-mimpi yang pernah kami bangun bersama.

“Kenapa kau terdiam?” Dia terus mendekatkan tubuhnya padaku. Perlahan beberapa helai rambutnya jatuh di pundakku. Rambut warna mahogany dengan volume yang dibiarkan mengembang di bagian bawah itu merangsek wajahku.

“Sekian lama kau meninggalkanku tanpa kabar,” suaraku tersendat.

“Bukankah itu keinginanmu?” Dia balik bertanya.

“Aku terbang ke sebuah negeri impian. Tentang bintang yang aku lihat rendah. Tentang malam yang aku lihat sepi. Tentang lelaki yang membuat aku jatuh hati.”

Lanjutkan membaca ‘Kembalinya Cinta’

Rindu

d:

Hati ini tungkap saat rindu membelenggu

di sini aku menebak teka-teki yang tak kunjung usai terjawab

diantara belantara tebal alismu

di sela indah bulu matamu

kamu menemukan persembunyian tergelapku

saat rinai bertubi-tubi menyerang

diantara stasiun kumal penuh debu

disela riuh gesekan roda kereta yang menyayat-nyayat

Lanjutkan membaca ‘Rindu’

Tangis

Adakah yang lebih menyakitkan dari tangis?

www.ice.org

Halaman Berikutnya »


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30