![]()
Perempuan muda itu duduk gelisah. Berkali-kali ia mengangkat teleponnya. “Masih di Cilincing, kapalnya belum berangkat juga.” Dari suaranya yang masih pecah, perempuan itu aku taksir tak lebih dari usia 17 tahunan.
Sudah hampir dua jam ia duduk di kapal klotok yang akan membawanya ke kampung halamannya di daerah Gaga di Muara Gembong Bekasi. Kapal tak sedikitpun beranjak dari dermaga itu. Matanya memandang sekeliling. Hampir semua penumpang gelisah menanti keberangkatan.
Aku termasuk diantara penumpang yang gelisah itu. Dan tatapan matanya menumbuk diriku. Mungkin ia tersenyum geli, sejak awal masuk ke kapal itu aku dan tiga orang temanku memang mirip makhluk aneh di tengah warga yang hendak mudik ke kampung halamannya itu. Maklum, hari itu kami memang berpakaian bak pembalap sepeda lengkap dengan helm dan kacamata.
![]()
Tanggal 16 Agustus, tepat sehari sebelum hari ulang tahun kemerdekaan ke 63 tahun, kami akan berpetualang ke Pantai Pakis Jaya di Karawang. Tujuan yang amat jauh. Tapi advertensi dari kang Adek selalu menarik perhatian saya. Kalau dipikir-pikir kawan yang satu itu memang tak cocok bekerja sebagai pustakawan yang cuma sibuk mengurusi buku. Dia lebih cocok kerja di biro iklan yang pandai menawarkan sesuatu yang biasa saja menjadi terlihat nikmat luar biasa.
Perjalanan kali ini juga berkat bujukan dan rayuan dia yang tiada henti. “Asyik pokoknya…..” Sementara aku sendiri makhluk yang gampang terjerat godaan yang menjanjikan kenikmatan. Jadilah hari sabtu 16 Agustus dipilih untuk melakukan touring kali ini.
![]()
Menunggu memang pekerjaan yang tak menyenangkan. Apalagi, ini menanti keberangkatan kapal klotok di dermaga yang serba seadanya di kawasan perkampungan nelayan Cilincing. Warna sungai yang coklat kehitaman menemani waktu menunggu sambil baunya yang tak sedap terus hinggap sehingga hidung ini akhirnya terbiasa.
Dermaga penyeberangan ini sama sekali tak mirip sebuah dermaga. Ada tiga kapal bersandar di sana. Selain ke Muara Gembong, perahu lain melayani untuk tujuan Muara Bendera, yang ada di daerah Karawang. Muara Bendera letaknya lebih jauh dari Muara Gembong. Perahu yang kami tumpangi cukup lebar bisa memuat sekitar 20 penumpang.
Bunyi raungan mesin diesel dari perahu nelayan yang baru pulang melaut atau yang akan berangkat melaut menemani waktu penantian kapal kami untuk berangkat. “Itu mesin dicampur ama minyak,” tukas Cak Choirul, teman yang orang Tanjung Priok. Dia tampaknya paham betul seluk beluk nelayan dan kapalnya.
![]()
Diantara masa penantian dan ombang-ambing perahu yang digoyang oleh buaian air karena perahu nelayan yang melintas, aku mencoba mencari tahu tentang perempuan muda tadi.
Namanya entah siapa. Dia cuma seorang buruh jahit di sebuah konveksi di kawasan Tanjung Priok. Hari itu dia ingin pulang menikmati tiga hari libur kemerdekaan. Bangsa ini memang berbahagia, pemerintahnya cukup baik dengan mengganti hari libur yang jatuh hari minggu dan memajukannya pada hari Senin.
“Pingin ikut perlombaan di kampung,” katanya sumringah. Ah, tapi aku terhenyak ketika aku tanya lebih jauh. Sebagai buruh pabrik yang bekerja mulai pukul 07.00 dan selesai pukul 16.30, dia hanya digaji Rp 775 ribu. Jauh di bawah upah minimun regional DKI Jakarta yang mencapai Rp 900 ribuan.
Untuk biaya kost dia menghabiskan uang Rp 250 ribu sebulan.
775.000
250.000
———-_
525.000
Ya, sebulan dia hanya menggenggam uang Rp 525.000. Saya berpikir tak henti-hentinya bagaimana ia bertahan dengan uang sebesar itu di tengah kehidupan Jakarta yang serba mahal ini. “Yah begitulah….” Dia masih tersenyum, kali ini kecut.
Lalu saya menghitung-hitung:
Satu hari ia bisa menghabiskan uang Rp 15.000 untuk makan. Maka selama satu bulan ia menghabiskan Rp 450 ribu. Ups, memang masih ada sisa sekitar Rp 75 ribu. Tapi bagaimana jika di tengah bulan ia jatuh sakit? Dokter mana yang harus ia tuju dengan uang hanya tinggal segitu?
Buruh-buruh proletar semacam gadis tadi banyak ditemui di negeri ini. Merekalah yang menjadi tulang punggung pengusaha yang ke sana kemari menunggang sedan mewah dengan gaya hidupnya yang serba glamor. Para perempuan berpendidikan SMA itu pun menjadi terbebas dari cap pengangguran, karena sudah bekerja walau jauh dari kesejahteraan.
Perlahan kapal kami berangkat menuju bibir laut dan kemudian menyusuri pesisir laut utara Jakarta untuk menuju Muara Gembong. Selama perjalanan, saya meneruskan perbincangan dengan gadis tadi. Meski dengan gaji pas-pasan dia mengaku senang ketimbang di kampung ia tak bekerja dan paling-paling berakhir disuruh untuk segera menikah.
![]()
Saya jadi teringat sepupu saya di kampung yang juga menjadi buruh pabrik di Semarang dan Klaten. Mereka baru lulus SMA tahun lalu, menjadi buruh, biar bergaji kecil tetap menjadi pekerjaan terhormat bagi warga desa seperti dua sepupu saya tadi.
Alunan laut yang tenang menemani perjalanan. Perlahan dari kejauhan sudah terlihat hutan bakau yang diselingi rumah-rumah nelayan. Melewati bagan yang sudah hampir ambruk di sana-sini akhirnya kapal kami memasuki wilayah Muara Gembong. Muatan pertama turun. Kali ini bukan orang, melainkan setumpuk balok es. Ah, pantas segelas es teh berharga mahal di sini, itu tak lain karena balok esnya didatangkan jauh dari Cilincing sana.
Layaknya angkot, kapal ini pun bisa berhenti sesuai permintaan penumpang tanpa harus sandar di dermaga. Seorang penumpang kemudian juga turun. Perjalanan tinggal sebentar lagi. Sepanjang perjalanan anak-anak yang ada di pinggir sungai sudah berteriak-teriak. “Pembalap..pembalap…” Aku hanya tersenyum.
![]()
Tiba di dermaga kecil, serombongan tukang ojek sudah siap menerkam para penumpang yang tak dijemput. Perempuan muda tadi tak diganggu, karena para tukang ojek sudah hapal kalau ia dijemput oleh kakaknya. Perempuan yang namanya lupa saya tanyakan itu, berjalan perlahan dan akhirnya pergi dengan kakaknya menunggang motor.
Saat sibuk menurunkan sepeda dari atap kapal, anak-anak sekolah langsung mengerubung. “Mau ke mana pak?” “Boleh pinjem sepedanya pak?” bersahut-sahut mereka saling berebut bicara.
![]()
Perjalanan dimulai dari sini. Saya cuma pasrah, karena daerah ini sama sekali tak saya kenal. Panas di ubun-ubun sudah terasa, tapi angin wilayah pesisir membantu menghilangkan sengatan matahari. Kayuhan demi kayuhan menapaki jalan lurus yang terus berlubang.
Sepanjang perjalanan, potret desa langsung menyergap. Perempuan di depan rumah tengah asik mencari kutu atau menyusui anaknya. Para lelaki tampak sibuk di sebuah tempat pembelian ikan. Kawasan Muara Gembong tampak jauh sekali dari sentuhan pembangunan. Jalannya yang rusak, seperti dibiarkan menerkam para pengguna jalan.
Hingga akhirnya Cak Choirul meminta berhenti untuk shalat di sebuah surau milik kecamatan Muara Gembong. Kecamatan ini amat rindang oleh pohon-pohon mangga. Sayang suraunya kotor seperti tak terawat. Ah, merawat surau di kantornya sendiri tak cakap apalagi mengurus wilayah…….begitu yang terbersit dalam pikiranku.
Perjalanan menyusuri jalan berdebu kami lanjutkan. Kayuhan saya memang tak sekencang tiga teman lainnya. Bukan tak ingin, saya ingin menikmati betul pemandangan di sekeliling. Saya tak ingin melepas setiap gambar yang ada di sekeliling saat menyusuri jalan tersebut.
![]()
Untuk menuju pantai Pakis Jaya kami harus menyeberangi sungai Citarum dengan eretan (perahu penyeberangan yang menggunakan tali). Sebetulnya, kami tak perlu melewati eretan kalau tadi mengikuti petunjuk abang tukang mainan yang juga biasa menggunakan sepeda melewati jalur-jalur sempit.
“Pake jalan biasa aja, ” kata Kang Adek. Maklum, hari ini dalam rombongan kami ada Cak Choirul yang belum terbiasa melewati single-single track seperti yang biasa saya dan kang Adek lakukan. Cak Choirul biasa main sepeda onthel di Tanjung Priok, hari itu dia kami ajak karena tertarik dengan perjalanan yang dijanjikan kang Adek.
![]()
Sungguh luar biasa, setelah menyeberang eretan pemandangan berbeda kami temukan. Di wilayah Karawang ini, jalannya mulus sekali. Jauh berbeda dengan jalan di Bekasi tadi. Padahal wilayah itu hanya dibatasi sungai saja dan perbedaan pun mencolok. Ah, pantas Ali Anwar sejarawan Bekasi ngotot menuntut agar Bekasi kembali saja ke pangkuan Jakarta.
![]()
Sambil berjibaku mengatasi angin wilayah pesisir yang sangat kuat menghantam dari depan, kami meneruskan kayuhan. Hingga akhirnya penduduk setempat mengatakan, pantai itu hanya tinggal beberapa ratus meter saja. Duh, bahagianya.
Setelah melewati jalan yang baru akan diaspal, kami akhirnya sampai juga di Pantai Pakis Jaya. Deburan ombak melambai-lambai menyambut kedatangan kami. Sayang hari itu, air laut berwarna coklat. “Biasanya sih bening,” kata seorang pedagang di bibir pantai.
Pantai Pakis Jaya merupakan pantai terbuka dengan jenis pasir coklat yang landai. Anak-anak tampak bermain-main di pinggiran pantai. Tempat ini masih relatif sepi. Padahal sangat berpotensi untuk dikembangkan. Mungkin lebih ramai pedagangnya ketimbang pengunjung yang datang.
Nah, perut yang sudah keroncongan ini akhirnya disuguhi bandeng bakar yang menyeret-nyeret nafsu makan kami. Sayang, warung tempat kami mampir menyediakan bandeng bakar plus nasi dingin yang mirip nasi dari raskin. Tapi karena lapar yah santap saja.
![]()
Rasa penat dan pegal dari leher hingga betis akhirnya sirna. Kami mendapatkan kesegaran angin pantai dan pemandangan yang lumayan memanjakan mata.
![]()
![]()
Di tengah-tengah kami menyantap ikan, ada serombongan penari sisingaan yang tengah mengusung seorang anak yang tampaknya baru saja dikhitan.
Perjalanan pulang adalah saat yang paling berat. Sementara matahari berkejaran menyongsong senja, kami meninggalkan pantai Tanjung Pakis ini. Bermodal niat dan semangat kami akhirnya kami mengayuhkan lagi sepeda ini.
![]()
Tapi belum jauh dari pantai aku menyaksikan ironi lagi. Sehari menjelang kemerdekaan, rakyat tampak berebut antri minyak tanah seharga Rp 3.150 di sebuah pangkalan minyak tanah. Subsidi yang akan dicabut untuk minyak tanah memang membuat susah rakyat kecil. Gas yang diharapkan menjadi pengganti harganya pun belum terjangkau atau kalaupun dapat gratis mereka tetap harus menebusnya dengan sejumlah uang ke petugas rt atau rw.
Perjalanan pulang masih jauh. Kami hanya bisa ber-dadah ria dengan para pengantri minyak tanah tadi……..Rakyat terus saja sengsara sementara para koruptor masih bisa berlagak kaya di depan meja persidangan. Seharusnya mereka juga dibuat semiskin para pengantri minyak tadi, biar ikut merasakan susahnya jadi rakyat kecil……..
![]()
Sayup-sayup terdengar lagu Slank:
Hidup sederhana gak punya harta asal banyak cinta…..
foto-foto: Adek Subrata



Komentar Terakhir