kepalaku tiba-tiba terasa berat
tak ada satupun asupan makanan
semua terasa hambar
sehambar hari tanpamu
Halaman Arsip 2
pagi ini aku merasakan rindu yang sangat
melihat tuan putri bisa lewat
dengan kereta kencana sambil melambai tangan
rasa rindu ini terus menusuk-nusuk
menahan keinginan yang lain
membuat lemas seluruh tubuh
aku membayangkanmu
hanya bisa membayangkanmu
mendengarkan keenan nasution di salihara menyanyikan nuansa bening:
” semakin terasa jauh semakin terasa dekat”
<!– @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Aku merindukanmu pulang
dengan tubuh yang bersih dari kelindan malam
seperti tiga purnama lalu
ketika suaramu penuh cinta
ketika matamu menatap mesra
aku merindukanmu pulang
di ujung malam yang padam
dengan hati sejumput luka
luka yang tak bisa terlupa
biarkan saja luka itu tersiram hujan
agar perihnya juga kau rasa
lalu kau membebatnya dengan rindu sejuta
aih, mengapa kau tak pulang-pulang
kota telah tutup hanya gemerlap yang buka
jalan-jalan telah meredup
hanya berkeliaran orang-orang yang berakrab malam
aku merindukanmu pulang
meski kau tak membawa harum
mungkin telah direbut
segerombolan debu yang laknat
aku memeluk kelam
menunggu kamu pulang
dengan tubuh bebas dari kelindan malam
dari balik reranting kita melihat bulatnya rembulan
lalu kau berkata: “kapan kita bercinta di bawahnya?”
aku menjawab hening
sepotong roti belum lagi aku habiskan ketika kepalamu mendekatku
“kenapa tidak malam ini saja?”
bibirku senyap
aku memandangi tiap inci wajahmu
menjelajahi tiap lekuknya
aku memintamu berhenti bicara
biar aku habiskan sepotong roti ini
lalu kita bercinta di bawah purnama
tapi kau cepat menjawab:
“kelak seperti apa anak yang kau inginkan?”
aku kembali senyap
aku memandangi lagi wajahmu
menjelajahi setiap detilnya
“aku ingin dia seperti kamu yang diramu menjadi kita”

Komentar Terakhir